One of Arab descent in Singapore said there were currently no more than 10 thousand people. In Indonesia, according Edrus Almashur, a lot of following and writing development of Arab societies Indonesia, there were about five million people. In Singapore Arab descent of about two percent of the number of Muslims who numbered about 500 thousand inhabitants. Or 14 percent of Singapore's four million inhabitants.
Even very small amounts, but their influence among Muslims in Singapore is big enough. At least there are a number of mosques built their predecessors, such as the Mosque Alkaff, Baalawi Mosque, Mosque Alsagoff and Aljunaid School. The latter is a modern madrasa. The students, in addition to master the Arabic language, also English. English is now the primary language in lion country, including in the Arab interethnic interactions. If the generation above them are merchants, the young generation of ethnic Arabs in Singapore today are the workers, with salaries much more lucrative than in Indonesia.
Inilah Kampung Arab di Surabaya, Jawa Timur. Kampung ini terletak di dua kecamatan. Yakni Kecamatan Semampir dan Tandes. Letaknya sekitar sepuluh kilometer dari pusat kota Surabaya.
Jika menggunakan kendaraan bermotor, kampung ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam dari Surabaya. Sesuai namanya, di kampung ini tinggal komunitas keturunan Arab atau Timur Tengah, berbaur dengan penduduk asli dan warga pendatang lainnya.
Sekitar 40 persen warga kampung ini merupakan keturunan Arab. Karena itu, orang dengan perawakan khas Timur Tengah, banyak terdapat disini.
Tempat tinggal warga keturunan Arab dapat dengan mudah dikenali. Rumah mereka memiliki ciri khas, dengan dua pintu dan dua pilar penyangga, serta teras di depan rumah.
Satu pintu kecil diperuntukkan bagi pemilik rumah dan anggota keluarganya. Sedangkan pintu besar berupa gerbang merupakan pintu untuk tamu.
Di bagian depan rumah terdapat kamar mandi yang khusus diperuntukan bagi tamu. Tuan rumah tidak boleh memakai kamar mandi ini. Mata pencarian mereka umumnya sebagai pedagang.
Mereka berjualan aneka macam barang, mulai dari pakaian, minyak wangi, peralatan ibadah, hingga buah kurma.Keberadaan warga keturunan Arab di tempat ini tidak terlepas dari sejarah Sunan Ampel, yang merupakan keturunan Arab.
Sunan Ampel datang ke daerah ini dari Campa pada masa awal keruntuhan Kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1400 masehi, bersama saudagar Arab.
Keluarga Hasyim ini masih memiliki keterkaitan dengan Sunan Ampel. Hingga kini dia masih tetap teguh mempertahankan budaya leluhurnya.
Anggota keluarga wanita tidak diperbolehkan memperlihatkan diri di muka umum. Termasuk disorot kamera. Kawasan Ampel ini dapat dikatakan sebagai cikal bakal keberadaan keturunan Arab di Indonesia.
Karena orang Arab pertama kali datang ke Indonesia ke wilayah ini, bersama Sunan Ampel. Keluarga keturunan Arab lainnya yang tinggal di kampung ini adalah keluarga Habib Muhammad. Keluarga ini lebih terbuka.
Habib mewarisi rumah ini secara turun temurun. Di tempat ini dia tinggal bersama istri beserta anak dan cucunya. Sehari-hari dia bekerja sebagai guru serta menjual madu dan kopi arab.
Keluarga Habib Muhammad merupakan pemeluk Islam yang taat. Hampir setiap hari, kegiatan keluarga ini selalu diisi dengan membaca Al Quran, dan sholat berjamaah.
Dalam hal selera makan, keluarga Habib ini juga tidak meninggalkan tradisi leluhurnya, yakni nasi kebuli.
Nasi yang terbuat dari beras yang dicampur rempah-rempah dan daging kambing ini menjadi makanan spesial keluarga ini. Nasi kebuli biasanya dihidangkan pada acara makan bersama yang dilakukan di tempat khusus semacam balai.
Dalam hal mencari jodoh, seperti halnya warga keturunan Arab lainnya, Habib masih memegang teguh tradisi keluarganya secara turun temurun.
Hanya anak laki-laki yang boleh menikah dengan bangsa lain, sedangkan anak perempuan hanya boleh menikah dengan lelaki sesama keturunan Arab.
Zaman boleh berganti, namun tradisi warisan leluhur harus tetap ditegakkan. Itulah prinsip yang dipegang warga Kampung Arab ini. Mereka akan tetap menjaga tradisi tersebut hingga akhir zaman. (Suprie)
Even very small amounts, but their influence among Muslims in Singapore is big enough. At least there are a number of mosques built their predecessors, such as the Mosque Alkaff, Baalawi Mosque, Mosque Alsagoff and Aljunaid School. The latter is a modern madrasa. The students, in addition to master the Arabic language, also English. English is now the primary language in lion country, including in the Arab interethnic interactions. If the generation above them are merchants, the young generation of ethnic Arabs in Singapore today are the workers, with salaries much more lucrative than in Indonesia.
Inilah Kampung Arab di Surabaya, Jawa Timur. Kampung ini terletak di dua kecamatan. Yakni Kecamatan Semampir dan Tandes. Letaknya sekitar sepuluh kilometer dari pusat kota Surabaya.
Jika menggunakan kendaraan bermotor, kampung ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam dari Surabaya. Sesuai namanya, di kampung ini tinggal komunitas keturunan Arab atau Timur Tengah, berbaur dengan penduduk asli dan warga pendatang lainnya.
Sekitar 40 persen warga kampung ini merupakan keturunan Arab. Karena itu, orang dengan perawakan khas Timur Tengah, banyak terdapat disini.
Tempat tinggal warga keturunan Arab dapat dengan mudah dikenali. Rumah mereka memiliki ciri khas, dengan dua pintu dan dua pilar penyangga, serta teras di depan rumah.
Satu pintu kecil diperuntukkan bagi pemilik rumah dan anggota keluarganya. Sedangkan pintu besar berupa gerbang merupakan pintu untuk tamu.
Di bagian depan rumah terdapat kamar mandi yang khusus diperuntukan bagi tamu. Tuan rumah tidak boleh memakai kamar mandi ini. Mata pencarian mereka umumnya sebagai pedagang.
Mereka berjualan aneka macam barang, mulai dari pakaian, minyak wangi, peralatan ibadah, hingga buah kurma.Keberadaan warga keturunan Arab di tempat ini tidak terlepas dari sejarah Sunan Ampel, yang merupakan keturunan Arab.
Sunan Ampel datang ke daerah ini dari Campa pada masa awal keruntuhan Kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1400 masehi, bersama saudagar Arab.
Keluarga Hasyim ini masih memiliki keterkaitan dengan Sunan Ampel. Hingga kini dia masih tetap teguh mempertahankan budaya leluhurnya.
Anggota keluarga wanita tidak diperbolehkan memperlihatkan diri di muka umum. Termasuk disorot kamera. Kawasan Ampel ini dapat dikatakan sebagai cikal bakal keberadaan keturunan Arab di Indonesia.
Karena orang Arab pertama kali datang ke Indonesia ke wilayah ini, bersama Sunan Ampel. Keluarga keturunan Arab lainnya yang tinggal di kampung ini adalah keluarga Habib Muhammad. Keluarga ini lebih terbuka.
Habib mewarisi rumah ini secara turun temurun. Di tempat ini dia tinggal bersama istri beserta anak dan cucunya. Sehari-hari dia bekerja sebagai guru serta menjual madu dan kopi arab.
Keluarga Habib Muhammad merupakan pemeluk Islam yang taat. Hampir setiap hari, kegiatan keluarga ini selalu diisi dengan membaca Al Quran, dan sholat berjamaah.
Dalam hal selera makan, keluarga Habib ini juga tidak meninggalkan tradisi leluhurnya, yakni nasi kebuli.
Nasi yang terbuat dari beras yang dicampur rempah-rempah dan daging kambing ini menjadi makanan spesial keluarga ini. Nasi kebuli biasanya dihidangkan pada acara makan bersama yang dilakukan di tempat khusus semacam balai.
Dalam hal mencari jodoh, seperti halnya warga keturunan Arab lainnya, Habib masih memegang teguh tradisi keluarganya secara turun temurun.
Hanya anak laki-laki yang boleh menikah dengan bangsa lain, sedangkan anak perempuan hanya boleh menikah dengan lelaki sesama keturunan Arab.
Zaman boleh berganti, namun tradisi warisan leluhur harus tetap ditegakkan. Itulah prinsip yang dipegang warga Kampung Arab ini. Mereka akan tetap menjaga tradisi tersebut hingga akhir zaman. (Suprie)


